Prof. Asaad: Pemuda Harus Kreatif

Prof. Asaad: Pemuda Harus Kreatif

Seminar Nasional Generasi Muda dan Pembangunan Pertanian Berkelanjutan

MEDAN-Rektor Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Prof. Dr. Mhd Asaad, MSi mengingatkan para pemuda  yang menyandang predikat mahasiswa harus kreatif, bergairah, dan pemberani menghadapi tantangan zaman yang semakin konflik. Persaingan global saat ini juga menuntut kreativitas dan inovasi-inovasi baru dari para pemuda.

“Jika  pemuda pemalas tidak kreatif, tentu saja tidak punya masa depan terlalu banyak menunggu dan berpangku tangan berharap nasib akan menjanjikan pekerjaan,” kata Rektor UISU itu ketika berbicara dalam seminar nasional bertema Generasi Muda dan Pembangunan Pertanian Berkelanjutan, Sabtu (3/3) di kampus Jalan SM Raja Medan.

Pada seminar yang digelar mahasiswa Prodi Agribisnis Fakultas Pertanian UISU itu, Rektor juga mensinyalir, paradigma berfikir para pemuda saat ini inginnya serba instant atau cepat, dan tidak memikirkan masa depan dengan upaya nyata, misalnya dengan mengembangkan bakat.

Sebagai pemuda yang sudah tinggal di desa tidak perlu sibuk mengejar pekerjaan di Kota, apalagi hanya sekedar untuk menjadi seorang guru. Sebab di pedesaan banyak peluang ekonomi yang cukup menjanjikan untuk dikembangkan dan diolah sehingga mendatangkan keuntungan ekonomi yang lebih besar. “Ketika saya mengunjungi sebuah desa pantai pernah didatangi seorang alumni minta pekerjaan jadi guru. Tapi saya bilang di desa ini banyak uang, nilainya miliar asalkan pandai mengelolanya anda akan jadi kaya. Tidak lama kemudian saya dengar dia sudah jadi ekportir ikan sehingga hidupnya jadi kaya,”begitu kata Rektor.

Rektor berharap para pemuda harus menghargai waktu. Waktu itu sangat berharga kalau digunakan untuk menggali potensi baik dalam karya maupun upaya, dan sesuatu bisa jadi berharga kalau ada usaha. Disamping itu pemuda harus kembali ke desa, sebab desa memiliki potensi sumber daya alam cukup besar untuk di kembangkan.

Rektor pada kesempatan itu mengingatkan para pemuda untuk menangkal pengaruh negatif budaya asing. Sebab pengaruh buruk budaya asing tersebut akan menghasilkan dampak yang sangat luas pada sistem kebudayaan masyarakat. Begitu cepatnya pengaruh budaya asing tersebut menyebabkan terjadinya goncangan budaya, yaitu suatu keadaan dimana masyarakat tidak mamapu menahan berbagai pengaruh kebudayaan yang datang dari luar sehingga terjadi ketidakseimbangan dalam kehidupan masyarakat yang bersangkutan.

Adanya penyerapan unsur budaya luar yang dilakukan secara cepat dan tidak melalui suatu proses internalisasi yang mendalam dapat menyebabkan terjadinya ketimpangan antara wujud yang ditampilkan dan nilai-nilai yang menjadi landasannya atau yang biasa disebut ketimpangan budaya.

Sebelumnya Zulham Effendi, Meng, koordionator Perhimpunan Pelajar Indonesia Internasional juga mengingatkan para pemuda/mahasiswa untuk tidak segan mengelola lahan-lahan di pedesaan menjadi lahan yang produktif, sehingga bisa mendatangkan nilai ekonomis yang cukup menjanjikan.

Pada kegiatanyang dihadiri civitas akdemika dan pimpinan Fakultas Pertanian dan Biro Rektor UISU itu juga dirangkai dengan penyerahan hadiah kepada pemenang lomba karya tulis ilmiah dan lomba puisu yang diikuti MA sederajat di kota Medan dan sekitarnya. (adm)