10 Wanita Bertarung di Pilkada Sumut, Ini Kata Pengamat Politik UISU

11 Sep 2020 Abdul Rasyid 139 Views


Reporter : Sri Alfridayanti

Dosen FISIP UISU, Rafriandi Nasution

 

UISU. Dosen Fisipol Universitas Islam Sumatera Utara Rafriandi Nasution SE, MT berpendapat, banyak dan maraknya wanita terjun ke dalam dunia politik bukti tingkat kesadaran wanita dalam politik sudah semakin baik. Ini juga menunjukkan adanya peningkatan baik secara kualitas maupun kuantitas.

“Bagus jika wanita ikut dalam pilkada ini. Tidak terbungkus seperti zaman Siti Nurbaya yang menyuarakan wanita harus di rumah mengurusi dapur, anak, dan lainnya. Sekarang ini kita lihat banyak wanita berhasil menjadi kepala daerah, Menteri, bahkan Presiden suatu negara”, tutur Rafriandi, pengamat politik UISU saat diwawancarai melalui telepon Kamis (10/09/20), sehubungan munculnya 10 wanita bertarung merebut Kepala Daerah di Sumatera Utara.

Para wanita berjuang sebagai kepala daerah seperti Lisa Andriani (Calon Wali Kota Binjai), Ellya Rosa Siregar ( Wakil Bupati Labuhan Batu), Rospita Sitoris (Bupati Simalungun), Atika Azmi Utammi (Bupati Mandailing Natal),  Nurhajizah Marpaung (Bupati Asahan), Winda Fitrika (Bupati Asahan), Cory Sriwaty Sebayang (Bupati Karo), Yus Falesky Surbakti (Bupati Karo), Susanti Dewiyani (Wali Kota  Pematangsiantar), dan Hasnah Harahap (Bupati Labuhan Batu Selatan).

Lebih lanjut ia mengatakan,  wanita juga bisa mengambil hati masyarakatnya. Mereka juga mempunyai peluang besar untuk berhasil selama mereka mampu memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat di daerahnya.

“Saya kira, jika perempuan sudah lama terjun dan berkecimpung dalam dunia perpolitikan ini baik aktif di partai politik maupun organisasi masyarakat maka mereka sudah cukup mampu memberikan kesan maupun kontribusi ditengah-tengah masyarakat mereka masing-masing. Maka mereka juga akan lebih mudah dalam merebut hati masyarakat di daerah mereka masing-masing”, tutur Rafriandi saat diwawancarai oleh tim uisu.ac.id.

Menurutnya saat ini bukan hanya laki-laki saja yang bisa menjadi dan terjun ke dunia politik. Banyak wanita yang juga sudah berhasil masuk dan terjun dibangku perpolitikan yang ada. Menurutnya emansipasi wanita saat ini juga menjadi salah satu pendorong wanita untuk bertarung memperebutkan kursi kepemimpinan ini.

“Saya kira, salah satunya karena emansipasi itu, kedua karena ada kebebasan diberikan kepada perempuan. Mereka bisa menjadi istri, ibu, teman, hingga tokoh dan pemimpin di tengah-tengah masyarakat.  Perempuan dan laki-laki itu sama di mata bangku perpolitikan. Tidak ada perbedaan antara wanita dan laki-laki”, kata Rafriandi.

Rafriandi berharap hadirnya wanita dalam pilkada ini untuk bisa membawa perubahan lebih baik pada kepemimpinan yang ada di daerahnya.

“Harapan saya dengan hadirnya mereka bisa membuat perubahan lebih baikcdaei kepemimpinan laki-laki. Jangan hadir justru memperburuk citra mereka baik penampilan, komunikasi maupun kualitas pencapaian program di daerah mereka sepeelrti tingkat kemiskinan bertambah ataupun kesejahteraan masyarakatnya malh beekurang. Tentu ham ini akan memperburuk citra mereka dari segi pencapaian mereka”, tutur Rafriandi.

 

 

 

Tagged: |

Author: