Mata Pelajaran Sejarah yang Terancam

09 Oct 2020 Zakaria Siregar 982 Views


Reporter:

Prof Hasrita Lubis M.Pd,Ph.D *)

Pendidikan Indonesia selalu menghadapi percobaan bertubi-tubi. Mulai dari kebijakan yang berganti-ganti, membingungkan, dan terkesan “apa adanya”. Terlebih lagi Ketika covid-19 menerpa, Pendidikan Indonesia kian menghadapi masa-masa paling suram dalam sejarah. Belum habis cobaan covid, muncul sebuah isu yang membikin para pemerhati hingga praktisi pendidikan panas. Yakni, penyederhanaan kurikulum dengan pengahpusan mata pelajaran Sejarah di sekolah-sekolah. Benarkah demikian?

Dalam draft yang beredar ber kop Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI tertanggal 25 Agustus 2020 merumuskan tentang “Sosialisasi Penyederhanaan Kurikulum dan Asesmen Nasional”. Penyederhanaan yang dimaksud menyebut bahwa ada perubahan mata pelajaran (mapel) Agama Islam yang diganti hanya menjadi ‘Salah satu Agama dan Kepercayaan kepada Tuhan YME’. Lalu perampingan mata pelajaran IPS yang menyebut Sejarah sebagai salah satu mapel peminatan, artinya mapel tersebut hanya sebagai mapel pilihan siswa yang bisa diambil atau tidak. Begitu juga dengan beberapa mapel IPA yang di dalamnya juga terdapat mapel peminatan.

Sorotan yang mengundang wacana luas adalah Mapel Sejarah. Berbagai asosiasi guru sejarah hingga kelompok-kelompok studi maupun masyarakat menentang wacana tersebut. Bahkan beredar petisi untuk menolak wacana Mapel Sejarah yang hanya dianggap sebagai peminatan. Artinya ada kekhawatiran kuat terhadap pengapusan mapel tersebut.

Dampak langsung dari penghapusan Mapel Sejarah adalah pengurangan jam pelajaran di sekolah-sekolah yang berakibat juga pada guru pengampunya. Sebelum wacana tersebut beredar saja, guru-guru sejarah kekurangan jam mengajar untuk memenuhi tagihan kinerja sertifikasi. Jika wacana penghapusan Mapel Sejarah benar, maka bisa dikatakan bahwa guru sejarah tak bisa berbuat banyak untuk berharap pada profesinya. Itu hanya segi praktis ekonomi. Akan tetapi persoalannya ternyata bisa lebih runyam dan berbahaya.

Sejarah dalam Pusaran Ideologi Bangsa

Seorang pemimpin Uni Soviet di masa silam, Nikita Khruschev, pernah berkata bahwa sejarah adalah suatu kekuatan besar yang bisa menjaga kekuasaan atau menghancurkannya. Dan kekuatan itu dipegang oleh sejarawan. Artinya sejarah tidak bisa diabaikan begitu saja. Sebab, siapa yang menguasai sejarah ia menguasai orang-orang. Menguasai orang-orang adalah ide besar kekuasaan, persis pada makna “politik” sesungguhnya.

Sejarah bisa berbahaya jika alirannya tidak terkendali. Jika dibendung, sejarah akan menyebar kemana-kemana dan mempengaruhi segenap jiwa tanpa arah. Namun, apabila hilang justru menjadi krusial karena seakan-akan negara kehilangan jati diri bangsa. Maka perlu dibuat alur yang sesuai dan ini terdapat pada dunia pendidikan.

Di dalam ajaran Islam, sejarah adalah satu pembelajaran utama yang perlu dipahami umat. Tentu berkenaan pada jalan yang diridhai, bukan yang dimurkai (QS. 1: 7). Artinya dengan sejarah kita bisa menentukan jalan yang benar di masa depan, sebab dunia ini memiliki siklus sosial yang terus berulang-ulang. Indonesia yang telah berusia 75 tahun masih dianggap muda jika dibandingkan negara-negara yang telah eksis ratusan tahun. Usia yang muda tersebut mestinya diimbangi dengan ideologi kuat, melalui berbagai kisah-kisah perjuangan agar dapat menumbuhkan rasa semangat patriotisme. Sikap tersebut adalah modal besar dalam mengisi pembangunan ini. Rasa persatuan dan kesatuan pasti akan tertanam. Dalam sejarah perjuangan bangsa semangat kebersamaan dalam makna gotong royong telah mengakar dalam budaya tradisional nilai ini perlu dilestarikan.

Jika sejarah hilang, maka hilang pula semangat yang dimaksud. Dan inilah letak kerentanan tersebut, yakni kehilangan jati diri bangsa yang dapat dengan mudah didikte oleh asing. Efeknya adalah penjajahan gaya baru melalui berbagai rangkaian ideologi luar yang tidak cocok oleh budaya Indonesia. Karakternak bangsa dibangun melalui nilai luhur yang terkandung dalam pristiwa sejarah yang telah dirajut para pejuang bangsa dari Sabang hingga Merauke. Situs Sejarah yang tertancap dalam beragam perasti perjuangan mengetarkan jiwa penerus bangs ajika diwariskan secara benar dan sistematis oleh para sejarawan, Guru  sejarah memegang amanah kompetensi mewariskan semangat patriotism melalui contoh kejujuran, ketangguhan komitmen , kecerdasan spiritual dan kegigihan para pejuang yang telah menjadi leluhur.

Melalui sejarah pula kita bisa menumbuhkan jiwa besar. Sebab sejarah bukan sekadar berbicara orang-orang yang menang, melainkan pada dasarnya melingkupi orang-orang kalah. Pada suatu sisi masa lalu kita pernah kalah dan bahkan salah, justru mengajari generasi masa kini untuk tidak terjurumus pada kesalahan serupa. Meskipun sejarah versi negara tidak pernah mengakui berbagai kesalahan dalam sejarah yang mereka buat, terdapat upaya-upaya sejarawan berbagi narasi salah tersebut agar tidak terulang kembali. Hal inilah yang akan hilang apabila mapel sejarah dihilangkan. Manusia Indonesia hanya akan menjadi robot yang akan dikendalikan pihak asing.

Masa Depan Sejarah

Tidak bisa dipungkiri bahwa Mapel Sejarah amat penting menjadi bagian pembelajaran di sekolah-sekolah demi generasi yang dapat menghargai jasa-jasa pahlawannya. Jepang bisa maju dan disegani karena mereka hormat pada leluhur, tentu karena menjadi bagian pembelajaran. Amerika Serikat mampu menjadi negara super power karena mereka berjiwa besar akan berbagai kesalahan-kesalahan yang mereka perbuat saat mengusir suku Indian atau memperbudak kaum kulit hitam. Hasilnya mereka menjadi negara demokrasi dengan hasrat tinggi membangun negara yang tidak ingin jatuh pada lubang yang sama.

Sekarang di negara Indonesia yang masih muda, akankah sejarah dihapus atau sekadar dianggap tidak penting? Untungnya Mendikbud, Nadiem Makarim telah mengklarifikasi bahwa Mapel Sejarah tidak menjadi agenda penghapusan ataupun perampingan dalam mapel di sekolah-sekolah. Kita patut mengapresiasi sikap Mendikbud. Akan tetapi hal ini akan menjadi pelajaran bagi para praktisi maupun pemerhati pendidikan untuk aktif mengawal sistem pendidikan kita yang kian diujung tanduk. Kondisi Indonesia yang sedang mendapat cobaan tidak semestinya ditambah dengan berbagai cobaan-cobaan lain. Kreativitas pembelajaran lebih dibutuhkan untuk mencapai pembelajaran yang optimal. Wacana memaksimalkan dokumene materi pembelajaran kedalam digital seirama dengan canggihnya teknologi perlu direalisasikan secara maksimal. Kaum milenial perlu berpartisi mengkemas materi sejarah di Bumi Nusantara ini menjadi dokumen digital yang canggih. Program Studi Pendidikan Sejarah perlu bangkit mengidentifikasi sejarah menjadi bahan cerita yang menarik bagi segenap usia anak bangsa. Nilai sejarah perlu mengalir deras dalam nafas  institusi kajian Sejarah berimbang dengan canggihnaya teknologi hingga makna pembelajaran sejarah kental dengan karakter budaya yang tangguh sepanjang hayat.

Bung Karno pernah berkata, JASMERAH, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Ide tersebut pasti tidak keluar begitu saja, sebab negara Indonesia dibangun di atas puing-puing sejarah. Jika fondasinya dihilangkan, maka negara Indonesia akan goyah dan bukan tidak mungkin akan tersungkur. Jika begitu maka kita hanya akan meratapi kebodohan kita dan tetap meratapi kesalahan-kesalahan yang berulang tanpa sekalipun berhasrat untuk menjadi yang lebih baik. Pada akhirnya, Mapel Sejarah adalah mapel yang mutlak, baik di sekolah-sekolah maupun untuk seluruh rakyat Indonesia. (***)

 

*)Penulis adalah Dekan FKIP- UISU

Tagged: | | |

Author: