VIRUS CORONA, KEJUTAN EKONOMI, SAATNYA KITA KEMBALI KE DESA

15 March 2020 Oleh: Humas UISU 7572 Views

Menghadapi dampak adanya virus corona, perlu peningkatkan daya tahan ekonomi masyarakat dengan meningkatkan potensi ekonomi masyarakat desa. Hal ini sejalan dengan kebijakan membangun desa oleh pemerintah pusat dan penciptaan desa-desa produktif baru sebagai satu kebijakan membangun desa, menata kota oleh Gubernur Provinsi Sumatera Utara.

Memasuki awal tahun 2020, dunia dikejutkan dengan peristiwa berupa munculnya virus Corona. Virus 2019 Novel Coronavirus  (2019-nCoV) yang lebih dikenal dengan virus Corona adalah spesies baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini bisa menyerang siapa saja. Inveksi virus ini disebut COVID-19 yang pertama kali ditemukan di kota Wuhan dan kemudian menular ke berbagai penjuru dunia. Virus ini pada akhirnya akan membawa kematian bagi penderitanya jika tak cepat ditangani secara medis. Dampak penularan virus ini menyebabkan banyak Negara membuat kebijakan baru yaitu pembatasan arus lalu lintas orang yang masuk ke berbagai Negara. Ini  berakibat pada menurunnya sektor pariwisata manca Negara. Dampak berikutnya terjadi secara makro pada lalu lintas barang di pasar internasional karena virus diduga dapat menyebar melalui barang-barang yang diperdagangkan. Terjadi pergeseran sisi permintaaan aggregat yang menurunkan keseimbangan makro di pasar internasional. Pasar modal dan turunannya akan menerima imbas seperti menurunnya indeks saham dipasar bursa. Oleh karena itu, kejutan eksternal karena virus corona akan memberikan pengaruh menurunnya sektor kepariwisataan, kemudian terjadinya ketidakseimbangan makro seperti menurunnya ekspor dan impor. Menurunnya pengurangan ekspor sebagai salah satu bentuk penerimaan dalam negeri akan mengalami gangguan yang berakibat pada terganggunya produktifitas secara nasional.

Dalam konsep ekonomi pasar, Virus Corana adalah kejutan eksternal yang menggangu keseimbangan di pasar barang dan jasa dan pada saat yang sama mengganggu keseimbangan makro. Kejutan eksternal (external shock)  akan merubah keseimbangan pasar pada tingkat harga yang lebih rendah maupun harga yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan oleh pergeseran permintaan dan penawaran ataupun karena perubahan harga. Berbagai faktor yang berpengaruh akan melakukan penyesuaian (adjustment).  Pelaku-pelaku ekonomi dipasar akan bereaksi dengan melakukan penyesuaian terhadap berbagai aspek kegiatan ekonomi. Tindakan penyesuaian berhubungan dengan seberapa besar daya tahan ekonomi terhadap gangguan tersebut melalui respon yang diberikan dan kebijakan yang dibuat untuk mengatasi dampak. Pada akhirnya  setelah melakukan penyesuaian, akan tercipta keseimbangan baru dan ekonomi akan normal kembali. Keseimbangan baru bisa lebih rendah atau lebih tinggi dari keseimbangan semula. Seberapa lama proses kejutan, penyesuaian dan keadaan normal terjadi tergantung sepenuhnya pada seberapa cepat kejutan eksternal dapat diatasi. 

Daya tahan ekonomi diukur dari tingkat kesiapan masyarakat dan tingkat ketepatan kebijakan pemerintah dalam menghadapinya. Dari pengalaman empiris perekonomian Indonesia dalam menghadapi kejutan eksternal dan kejutan internal seperti krisis moneter, desa dengan struktur ekonomi agraris cenderung memiliki daya tahan dan punya kemampuan untuk melakukan penyesuaian sehingga dampak yang timbul dari adanya virus Corona tidak akan berpengaruh besar dalam perekonomian khususnya masyarakat di desa. Indikator ekonomi  daya tahan ekonomi dapat dilihat dari seberapa besar kebutuhan pokok diproduksi lokal. agraris. Kebijakan pemberian dana desa bagi seluruh desa di Indonesia dengan jumlah yang besar adalah suntikan modal yang dapat mendorong ketahanan dan peningkatan kemampuan ekonomi masyarakat desa dan mempunyai dampak multiplier yang tinggi bagi peningkatan produktifitas desa. Peruntukan dana desa yang tepat sasaran akan menciptakan kemampuan ekonomi yang mandiri bagi masyarakat desa. Jika manajemen dana desa dikaitkan dengan program membangun yang terkait ekonomi antar desa di satu daerah, atau antar satu daerah dengan daerah yang lain dalam satu provinsi maka basis ekonomi masyarakat desa akan tumbuh dengan nilai tambah yang besar. Oleh karena itu, peran perencanaan dana desa dalam rencana pembangunan jangka menengah desa (RPJMdes) menjadi sangat penting dan strategis apalagi bila perencanaan tersebut didasarkan pada perencanaan dari desa, desa ke daerah menjadi satu sinerjitas perencanaan yang berbasis pembangunan desa. Disisi lain program sektoral dapat bersinergi dengan program pembangunan desa.

 Indeks Desa Membangun (IDM) yang digunakan untuk mengukur status desa oleh kementrian desa dan pembangunan desa tertinggal dan transmigrasi dalam pengukuran  untuk ketahanan sosial, ketahanan ekonomi dan ketahanan lingkungan di desa yang menjadikan desa yang bersangkutan dapat dikatakan sebagai sangat tertinggal, tertinggal, berkembang, maju dan mandiri. Data ini dapat dijadikan sebagai basis untuk mentapkan perencanaan dan kebijakan. Oleh karena itu, dalam  menghadapi dampak virus Corona, kebijakan Gubernur Sumatera Utara untuk menjadikan desa dalam membangun desa, menata kota yaitu desa dan kota produktif dengan berbagai kriteria, adalah upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Sumatera Utara untuk menjadikan desa mempunyai ketahanan sosial, ekonomi dan lingkungan yang tinggi sejalan dengan program membangun desa dari pinggiran sebagaimana nawacita pembangunan presiden Jokowi. Ketepatan dalam kebijakan membangun desa dapat merujuk pada status desa. Keberhasilan dalam membangun desa wisata bunga dan buah, wisata nelayan digital, dan desa one stop agro misalnya, akan mendorong  ketahanan ekonomi masyarakat di desa. Keberhasilan membangun desa sehat bermartabat akan meningkatkan ketahanan sosial dari aspek kesehatan. Keberhasilan desa mandiri sanitasi, desa bebas sampah akan meningkatkan ketahanan lingkungan desa. Keberhasilan dalam menjalankan program dana desa dengan kebijakan program desa/kota produktif adalah satu bentuk sinergitas pembangunan daerah yang dapat meningkatkan ketahanan ekonomi masyarakat dari kejutan dalaman (internal shock) maupun kejutan dari luar (eksternal shock). 

Program membangun desa dan kota produktif adalah satu kebijakan pembangunan yang dapat digunakan sebagai acuan dasar dalam membuat program pembangunan di desa. Dukungan masyarakat kunci utama agar program ini berhasil. Dampak kejutan ekonomi baik internal maupun eksternal tidak akan berpengaruh kuat dengan adanya Ketahanan sosial, ekonomi dan lingkungan  desa dan kota yang kuat. Beberapa kabupaten/kecamatan/desa yang masuk dalam kategori tertinggal dan sangat tertinggal yang terdapat di 12 kabupaten/kota di Sumatera Utara dapat menjalankan program desa/kota produktif yang sesuai dengan potensi yang dimiliki. Kebijakan yang tepat akan menghasilkan dampak yang positif bagi masyarakat. Bagi 15 kabupaten/kota yang masuk dalam kategori berkembang, maka kebijakan desa dan kota produktif yang tepat akan dapat menghasilkan dampak ekonomi yang kuat dan dapat merubah status menjadi maju. Penetapan kebijakan yang tepat dengan program yang tepat akan meningkatkan daya tahan ekonomi masyarakat baik di desa maupun di kota dan hal ini sejalan dengan visi Gubernur Sumatera Utara, Membangun desa, Menata Kota melalui program membangun desa dan kota produktif. 

*Penulis adalah dosen FE UISU dan 

Kepala Pusat Kajian Pembangunan Desa dan Kebijakan Publik 

Lembaga Penelitian Universitas Islam Sumatera Utara, Medan.